Taushiah Sesepuh

SAMBUTAN SESEPUH PONDOK PESANTREN SURYALAYA
PADA UPACARA SYUKURAN HUT PONDOK PESANTREN SURYALAYA KE - 95


Assalamu'alaikum wr wbr

Yang terhormat Bapak Menteri Agama RI,
Yang terhormat Bapak Gubernur Jawa Barat,
Yang terhormat Bapak Bupati beserta Anggota Muspida Tasikmalaya,
Yang terhormat bapak-bapak, ibu-ibu para undangan
Yang berbahagia para ikhwan Thariqat Qodiriyah Naqsyabandiyah, baik dari dalam maupun luar negeri.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata'ala atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita semua.

Shalawat serta salam semoga dilimpahcurahkan kepada junjunan Nabiyana wa Habibana Muhammad SAW, serta ahli keluarga, para sahabat, Aulia Allah dan Alim Ulama serta ummatnya yang shaleh sampai akhir zaman.

Hadirin yang berbahagia,
Pada hari ini, Selasa tanggal 5 September 2000, Pondok Pesantren Suryalaya tepat berusaia 95 tahun. Oleh karena itu kami sangat berbahagia dan seluruh ikhwan baik yang ada di dalam maupun luar negeri mensyukuri atas nikmat tersebut.

Dan yang lebih membahagiakan lagi, bahwa selama 95 tahun, kami telah berusaha melaksanakan amanat pendiri pondok Pesanren Suryalaya Syaikh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad (Alm.) melaksankan pengabdian bagi kebahagiaan ummat Islam dan kemajuan serta kejayaan negara dan bangsa Indonesia.

Kami menyadari sekalipun masa pengabdian Pesantren Suryalaya telah mencapai 95 tahun, namun pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara, masih banyak kekurangan dibandingkan dengan kelebihannya.
Pengabdian dan parsitipasi kami dalam pembangunan bangsa masih terasa sangat kecil dan terbatas, sekalipun demikian Insya Allah tekad dan semangat kami untuk meningkatkan pengabdian dan parsitipasi kepada negara dan bangsa Indonesia akan terus kami lakukan tentunya sebatas kemampuan yang ada, sekurang-kurangnya dalam upaya pembinaan ummat untuk mencapai dan memperoleh ridlo Allah SWT.

Hadirin yang berbahagia,
Upaya pembinaan ummat kiranya perlu ditingkatkan mengingat sebagian ummat sudah mulai lepas kendali dan kehilangan pegangan, ummat perlu diperkuat aqidahnya, seperti perintah Allah untuk bertauhid, beribadah dan berdzikir adalah semata karena kasih sayang-Nya, jangan sampai hamba-Nya terjatuh dan terjerat menjadi hamba yang sesat dan salah jalan, dan mereka harus kuat serta tegar dalam menghadapi segala cobaan.

Hadirin yang berbahagia,
Sampai saat ini bangsa Indonesia masih belum terbebas dari berbagai cobaan, apakah cobaan beupa krisis ekonomi, sosial, maupun akhlaq, semua ini perlu kita sikapi dengan penuh kebijakan dan penuh rasa tangung jawab. belum ada resep instan yang dapat menjamin penyelesaian. Oleh karena itu kebersamaan dengan melaksanakan tugas masing-masing secara profesional saling mengingatkan secara santun (watwa saobil hakki watawa saobi sobri) dan tak lupa beramar ma'ruf nahyi munkar secara ikhlas, menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki masing-masing, menjadi amat penting dalam upaya proses penyelesaian.

Hadirin yang berbahagia,
Mengapa tidak kita coba untuk mengakhiri berbagai krisis itu dengan melihat ke akar masalah, yaitu faktor penyebab terjadinya, tidak hanya melihat ke permukaannya saja tetapi melihat akibatnya.
Kalau kita kembalikan segala persoalan hidup bangsa ini kepangkalnya maka semuanya disebabkan adanya tantangan-tantangan terhadap kehidupan kita, tantangan itu bisa datang dari dalam dan juga dari luar. Diantaranya adalah berkembangnya faham kebendaan yang mendorong manusia berusaha untuk memperoleh kekayaan tanpa melihat apakah usahanya sesuai dengan aturan agama ataukah tidak.
Globalisasi informasi tidak dapat dibendung oleh siapapun melalui berbagai media, tidak kurang pengaruhnya terhadap perubahan cara hidup manusia. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah masalah kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan yang masih menghantui sebagian besar masyarakat kita khususnya ummat Islam.

Hadirin yang berbahagia,
Apa upaya-upaya yang dapat kita lakukan untuk mengatasi tantangan-tantangan kehidupan kita ini.

Siapapun sepakat bahwa agamalah yang dapat mengatasinya. Dan yang dimaksud, adalah jiwa agama, seseorang harus berlatih/riyadloh mengendalikan nafsunya, karena nafsulah yang menjadi penyebab lepasnya jiwa agama dari diri kita.

Dalam hal inilah Allah SWT berfirman dalam Al-Quran :
“Orang-orang yang berjuang di jalan Kami (Allah SWT) akan kami tunjukkan mereka ke jalan-jalan kami”
Kalau memperhatikan ayat tersebut di atas, bahwa Allah SWT mengaitkan hidayah dengan jihad (berjuang), maka manusia yang paling sempurna adalah manusia yang paling banyak berjuangnya. Adapun makna luas berjuang/jihad, tidak hanya diartikan seagai perang suci, namun jihad yang meliputi sikap dan perilaku profesionalisme yang harus dimiliki sesorang dengan niat li – ila – i kalimatilah, seperti memajukan agama Islam dengan cara berdakwah, mengajar, untuk memajukan lembaga-lembaga pendidikan.

Islam termasuk pesantren, dan lain-lain, sereta menaburkan ikhsan, seperti tolong menolong terhadap sesama, memajukan masyarakat serta membangun bangsa dan negara. Sedangkan jihad yang paling wajib adalah memerangi memerangi hawa nafsu dan memerangi syaitan. Barang siapa yang memerangi kedua musuh ini karena Allah, maka Allah SWT akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan yang dapat menyampaikannya ke surga.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Nazi’at : 40 – 41
“Adalah orang yang takut kepada Tuhannya dan menahan nafsu dari keinginanya, maka sesunguhnya surgalah tempat tinggalnya”.

Nabi Muhammad bersabda dalam hadisnya :
“Aku adalah orang yang lebih megerti Allah dari pada kamu, dan aku pula yang lebih takut kepada-Nya dari pada kamu”.
Kemudian Tuan Syaikh Abdul qadir al Jaelani Qaddasallahu Sirrohu, menyatakan dalam Kitab Fath al Robbani. Artinya :
“Tahanlah lisan dari pengauan kepada makhluk, jadilah juru bicara Allah dan seluruh makhluk untuk menyeru mereka agar patuh dan membendung maksiat, Tahanlah mereka dari sesat, bid’ah dan mengikuti nafsu dan berjalin dengan nafsu. Seru mereka agar mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Wahai manusia ambilah nasihat dari Al-Qur’an dengan negamalkannya, bukan memperdebatkannya. I’tikad itu kata yang terus dilaksanakan, sedang amal itu mnurut pelaksanaan yang berjumlah. Jagalah iman disana, bersedekahlah dengan hatimu, beramallah dengan semua organ tubuhnmu, sibukkan dirimu dengan apapun yang membawa manfaat dan janganlah jauhi akal dunia yang kurang”.

Nabi bersabda dalam hadistnya :
“ Sesuatu yang paling aku takutkan dari ummatku adalah dua hal. Panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu, maka panjang angan-angan dapat melupakanmu dari kebenaran, sedangkan mengikuti hawa nafsu akan memalingkanmu dari kebenaran”.

Hadirin yang berbahagia,
Mengapa berjuang melawan hawa nafsu dan syetan lebih besar dan penting. Karena jihad melawan hawa nafsu antara lain dengan memasukkan nilai-nilai agama dan senantiasa bertaqarrub serta mengingat Allah secara terus menerus.

Sebab apabila tidak memasukkan niali-nilai agama dalam jiwa dan titik pusat yang ada pada manusia terputus hubungan dengan Allah Subhanahu Wata’ala, maka yang menjadi pusatnya adalah hawa nafsu yang selalu cenderung untuk mencari kepuasan dan kebenaran duniawi.
Kesesatan ini diungkapkan dalam Al-Quran Surat Al-Jatsiyah : 23
“Apakah engkau tidak melihat orang yang mnobatkan hawa nafsu sebagai Tuhannya”.

Hadirin yang berbahagia,
Adapun tentang upaya pembentukan kepribadian, Tuan Syaikh berkata,” Wahai, kelincahan lisan tanpa dibarengi amalan hati, ia tidak akan mampu mengajakmu sampai kepada Allah. Perjalanan itu hanyalah kedekatan Sirr, awal itu hanyalah awal yang berfungsi, serta menjaga hukum syari’at melalui angota tubuhmu serta berendah diri untuk beribadah. Barangsiapa menjadikan lisannya sebagai tolok ukur maka ia tidak punya ukuran. Barangsiapa menampakkan amalnya kepada manusia, maka tiada amal baginya”. Selanjutnya Tuan Syaikh mengatakan “, dasar amal adalah tauhid dan ikhlas. Barangsiapa tidak punya tauhid, tidak kenal ikhlas, maka tiada amal baginya. Hukumilah amalan dasar dengan tauhid dan ikhlas, lalu bangunlah amalan berdasar kekuatan daya Allah, bukan atas daya kekuatanmu. Kekuatan tauhid itu pembangun, bukan kekuatan syirik dan munafik
.

Adapun amalan universal yang representatif dalam pandangan thariqat qodiriyah Naqsyabandiyah adalah dzikrullah, dan dengan dzikrullah hati orang mnjadi tenang dan tenteram sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran Surat Ar-Ra’du : 28
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Perhatikan hanya dengan mengingat Allah itu hati menjadi menjadi tenteram”.

Kalau melihat makna ayat tersebut di atas bahwa manusia memerlukan hidup yang baik dan tenteram di dunia ini.

Dan di dalam Al-Qur’an secara tegas dikatan bahwa kehidupan dunia ini baik, tetapi jauh akan lebih baik lagi kalau kebaikan di dunia ini dijadikan wahana ataupun tangga untuk mendapatkan kehidupan akhirat yang lebih baik.

Seperti do’a yang senantiasa kita baca setiap selesai shalat.
“ Ya Allah ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkan kami dari siksa api neraka”.

Maka untuk itu semua saya mengajak kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh ikhwan yang sedang belajar mengamalkan Thariqat Qodiriyah Naqsyabandiyah untuk terus meningkatkan amal ibadah, dzikrullah, khataman, dan amaliyah lainnya dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT, demi tercapainya segala yang kita maksudkan seperti do’a yang selalu kita baca,

“ Ilaahi anta maksudii wa ridloka mathlubii a’thinii mahabataka wa ma’rifataka ”

Hadirin yang berbahagia,
Dalam kesempatan yang baiak ini perkenankanlah saya menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah RI yan telah memberikan Penghargaan Bintang Jasa Utama, dan kepada pihak IFNGO yang juga telah memberikan anugrah “Distinguished Service Award 2000” serta Organisasi BERSAMA dan Pemda Jawa Barat yang telah memberikan pengharagaan kepada saya.

Walaupun penghargaan-penghargaan tersebut diberikan kepada pribadi saya, tapi ini semua merupakan hasil jerih payah seluruh ikhwan Keluarga Besar pondok Pesantren Suryalaya, dan pada hakikatnya adalah merupakan amanat dari Allah SWT. Oleh karena itu saya mengajak kepada seluruh ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya untuk senantiasa memelihara dan menjaga kepercayaan tersebut, dengan terus meningkatkan pengabdian kita terhadap masyarakat/bangsa, agama dan negara.

Dan dalam kesempatan ini pula perkenankan saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya yang telah dan sedang berkhidmat memajukan Pondok Pesantren Suryalaya. Dengan iringan do’a semoga pengabdian/khidmat mereka para pendahulu yang telah berpulang ke Rahmatullah menjadi amal saleh yang akan memperoleh balasan dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Dan kepada mereka yang masih berkhidmat, semoga Allah SWT memberikan kekuatan lahir bathin, sehingga secara bersama-sama dapat terus memajukan Pondok Pesantren Suryalaya pada khsusnya demi kemajuan agama dan negara pada umumnya.

Hadirin yang berbahagia,
Dan melalui kesempatan yang sangat berbahagia ini pula kami Keluarga Besar pondok Pesantren Suryalaya menyampaikan terima kasih kepada Bapak menteri Agama Republik Indonesia.

Demikian juga kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah yang senantiasa memberikan bimbingan kepada kami (Keluarga Besar Pondok Pesantren Suryalaya) dengan harapan semoga kondisi seperti ini akan tetap terpelihara, demi tercapainya suatu kondisi yang baik dan penuh ukhuwah antara ulama dan umaro, serta antara masyarakat dengan para pemimpinnya.

Terima kasih juga kepada masyarakat dan semua pihak yang telah bersama-sama memajukan Pondok Pesantren Suryalaya. Kesemuanya ini kami serahkan kepada Allah SWT semiga pengabdian dan parsitipasinya memperoleh balasan daripada-Nya.

Dan kepada pihak Organisasi BERSAMA saya mengucapkan selamat atas ditandatanganinya kerjasama antara Organisasi BERSAMA, dengan New Direction Singapura. Semoga dengan dilaksanakannya kerjasama ini, upaya-upaya penaggulangan penyalahgunaan Napza akan lebih intensif lagi bagi penyelamatan bangsa dan negara dimasa-masa mendatang.

Hadirin yang berbahagia,
Adapun kepada seluruh ikhwan Thariqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya, saya mengharap disamping mensyukuri segala nikmat dari Allah SWT, dan bermuhasabah (evaluasi diri) serta mempererat ukhuwah Islamiyah, juga agar terus memperbanyak amal ibadah, dzikrullah, khataman, dan amal-amal lainnya, mempererat kesatuan dan persatuan, meningkatkan kinerja sesuai dengan kemampuan dan profesi masing-masing, saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta terus meningkatkan pengabdian terhadap masyarakat, bangsa dan agama.

Dan semoga para ikhwan senantiasa menghayati dan mengamalkan Tanbih dalam kehidupan sehari-hari yang antara lain dari sekian banyak pesan Guru almarhum, yang perlu kita perhatikan adalah “ Pun kami tempat bertanya tentang Thariqat Qadiriyah Naqsyabandiyah, menghaturkan dengan tulus ikhlas wasiat kepada segenap murid-murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan hawa nafsu, terpengaruh oleh godaan syaitan, waspadailah akan jalan pnyelewengan terhadap perintah Agama maupun Negara, agar dapat meneliti diri kalau tertarik olah bisikan Iblis yang selalu menyelinap dalam hati sanubari kita”.

Bapak menteri Agama RI yang saya hormati, Para Undangan serta hadirin yang berbahagia.

Demikian pidato yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas segala perhatian, dan mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan kami. Semoga segala usaha kita memperoleh Ridlo dari Allah Subhanahu Wata’ala

Wassalamu’alaikum Wr Wbr

2000-09-05 00:00:00, Tasikmalaya

Sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya
KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin